
| (SUMBER:http://id.wikipedia.org/wiki/Enggang |
Burung Enggang atau Burung Rangkong (bahasa Inggris: Hornbill) adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Biasanya paruhnya itu berwarna terang . Nama ilmiahnya "Buceros" merujuk pada bentuk paruh, dan memiliki arti "tanduk sapi" dalam Bahasa Yunani . Makanannya terutama buah-buahan juga kadal , kelelawar , tikus , ular dan berbagai jenis serangga. Enggang (Allo, Ruai/Arue sebutan bagi orang dayak) adalah jenis burung yang ada di pulau Borneo. Burung enggang memiliki ukuran tubuh cukup besar, yaitu sekitar 100 cm. Ada sekitar 8 jenis burung enggang dengan warna tubuh perpaduan antara hitam dan putih.
sedangkan warna paruhnya merupakan perpaduan warna kuning, jingga dan merah. Ciri khas dari burung ini adalah adanya cula paruh (casque) yang tumbuh di atas paruhnya. Burung yang makanannya buah ara ini mempunyai tingkah laku bersarang yang khusus. Burung enggang mempunyai kebiasaan hidup berpasang-pasangan dan cara bertelurnya merupakan suatu daya tarik tersendiri.Pada awal masa bertelur burung jantan membuat lubang yang terletak tinggi pada batang pohon untuk tempat bersarang dan bertelurnya burung betina.kemudian burung jantan memberi makan burung betinanya melalui sebuah lubang kecil selama masa inkubasi , dan berlanjut sampai anak mereka tumbuh menjadi burung muda.
Mengapa burung Enggang ini di jadikan sebagai simbol oleh suku dayak? Burung ini menyimbolkan suku dayak layaknya burung Merpati menyimbolkan kesucian dan keabadian dalam keagamaan Kristiani. Karena itu pula, burung enggang ini dijadikan sebagai contoh kehidupan bagi orang dayak untuk bermasyarakat agar selalu mencintai dan mengasihi pasangan hidupnya dan mengasuh anak mereka hingga menjadi seorang dayak yang mandiri dan dewasa. Namun sekarang ini burung enggang merupakan burung langka yang sudah sangat sulit di temui di hutan borneo , ini dikarenakan pengerusakan hutan borneo yang terus-menerus terjadi.
seperti penebangan hutan baik illegal logging maupun untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit. Nasib burung enggang ini sekarang sama seperti nasib suku Dayak di borneo yang semakin terpinggirkan di tanahnya sendiri. Sekarang burung ini hanya sebagai simbol dan hanya dapat dilihat dalam suatu rekaman gambar yang menunjukkan masa kejayaannya dimasa lampau . Burung ini hanya dapat dilihat sebagai simbol yang dilukiskan berupa motif seperti pada gambar ini. Kasihan sekali nasib mereka. Sebagian yang tersisa darinya hanya sebuah gambar dan segelintir bagian paruh dan bulu yang tetap di simpan rapi oleh masyarakat suku dayak.Burung Enggang Juga Lambang Kesetian ,Burung enggang ini akan memiiliki akan warna paruh dan tanduk berwarna orange yang terang pada saat burung Enggang sudah deawasa lain halnya saat burung Enggang ini masih kecil dia memiliki paruh dan tanduk yang putih karena akibat bertambahanya umur dan kebiasaan burung Enggang menggosakan paruh pada bagian tubuh yang mempunyai pekmen warna maka seiring berjalanya waktu tanduk dan paruh burung ini akan berubah Orenge. Burung Enggang ini bisanya hidup secara berpasangan dan membuat sangkar pada pohon yang tinggi denga cara membuat lubang pada batang pohon waktu bertelur burung betina akan menutup sarangnya dengan daun dan lumpur dan membuat lubang kecil untuk si burung Enggang jantan memberikan makanannya bisanya burung ENggang akan mengahasilkan telur dalam sekali bertelur antara 5 butir sampai 6 butir telur, dan ketika telur-telur sudah menetas dan memuat sarang tidak muat lagi maka Induk burung Enggang akan keluar untuk memperbaiki agar bisa muat untuk anak-anak mereka.Karena kesetian burung Enggang jantan dalam melayani burung ENggang mencarikan makan pada saat burung Enggang betina bertelur sampai membesarkan anak-anaknya ini maka burung ini banyak di jadikan lambang untuk lambang kesetian.

Burung Enggang Dalam Mitos
Di dalam mitosanya di Kalimantan burung ini disebut dengan burung "Alam Atas" dari mitosnya burung ini adalah burung jelmaan Panglima Perang dan akan muncull pada saat ada peperangan saja, oleh masyarakat kalimantan burung ini di skralkan tidak boleh di buru dan kalaupun ada burung
Enggang yang mati maka burung ini tidak di buang begitu saja melainkan kepala dan ranggaka burung akan di smpan dan kepalnya akan di jadikan hiasan kepala pada dan akan di gunakan oleh orang-orang tertentu saja.


