Rabu, 25 Mei 2016

Burung Enggang 


[Dilindungi dan Langka] Hewan Khas Kalimantan
(SUMBER:http://id.wikipedia.org/wiki/Enggang

       Burung Enggang atau Burung Rangkong (bahasa Inggris: Hornbill) adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Biasanya paruhnya itu berwarna terang . Nama ilmiahnya "Buceros" merujuk pada bentuk paruh, dan memiliki arti "tanduk sapi" dalam Bahasa Yunani . Makanannya terutama buah-buahan juga kadal , kelelawar , tikus , ular dan berbagai jenis serangga. Enggang (Allo, Ruai/Arue sebutan bagi orang dayak) adalah jenis burung yang ada di pulau Borneo. Burung enggang memiliki ukuran tubuh cukup besar, yaitu sekitar 100 cm. Ada sekitar 8 jenis burung enggang dengan warna tubuh perpaduan antara hitam dan putih.                  
       sedangkan warna paruhnya merupakan perpaduan warna kuning, jingga dan merah. Ciri khas dari burung ini adalah adanya cula paruh (casque) yang tumbuh di atas paruhnya. Burung yang makanannya buah ara ini mempunyai tingkah laku bersarang yang khusus. Burung enggang mempunyai kebiasaan hidup berpasang-pasangan dan cara bertelurnya merupakan suatu daya tarik tersendiri.Pada awal masa bertelur burung jantan membuat lubang yang terletak tinggi pada batang pohon untuk tempat bersarang dan bertelurnya burung betina.kemudian burung jantan memberi makan burung betinanya melalui sebuah lubang kecil selama masa inkubasi , dan berlanjut sampai anak mereka tumbuh menjadi burung muda.

       Mengapa burung Enggang ini di jadikan sebagai simbol oleh suku dayak? Burung ini menyimbolkan suku dayak layaknya burung Merpati menyimbolkan kesucian dan keabadian dalam keagamaan Kristiani. Karena itu pula, burung enggang ini dijadikan sebagai contoh kehidupan bagi orang dayak untuk bermasyarakat agar selalu mencintai dan mengasihi pasangan hidupnya dan mengasuh anak mereka hingga menjadi seorang dayak yang mandiri dan dewasa. Namun sekarang ini burung    enggang merupakan burung langka yang sudah sangat sulit di temui di hutan borneo  , ini dikarenakan    pengerusakan hutan borneo yang terus-menerus terjadi.
     seperti   penebangan hutan baik   illegal logging maupun untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit. Nasib burung enggang ini sekarang sama      seperti nasib suku        Dayak di borneo yang semakin terpinggirkan di tanahnya sendiri.  Sekarang burung ini hanya sebagai simbol dan hanya dapat dilihat dalam      suatu     rekaman     gambar yang menunjukkan masa  kejayaannya dimasa lampau  . Burung ini hanya dapat dilihat sebagai simbol yang dilukiskan berupa motif seperti pada gambar ini. Kasihan sekali nasib mereka.  Sebagian yang tersisa darinya hanya sebuah gambar dan segelintir  bagian paruh dan bulu yang tetap di simpan rapi oleh masyarakat suku dayak.

      Burung Enggang Juga Lambang Kesetian ,Burung enggang ini akan memiiliki akan warna paruh dan tanduk berwarna orange yang terang pada saat burung Enggang sudah deawasa lain halnya saat burung Enggang ini masih kecil dia memiliki paruh dan tanduk yang putih karena akibat bertambahanya umur dan kebiasaan burung Enggang menggosakan paruh pada bagian tubuh yang mempunyai pekmen warna maka seiring berjalanya waktu tanduk dan paruh burung ini akan berubah Orenge. Burung Enggang ini bisanya hidup secara berpasangan dan membuat sangkar pada pohon yang tinggi denga cara membuat lubang pada batang pohon waktu bertelur burung betina akan menutup sarangnya dengan daun dan lumpur dan membuat lubang kecil untuk si burung Enggang jantan memberikan makanannya bisanya burung ENggang akan mengahasilkan telur dalam sekali bertelur antara 5 butir sampai 6 butir telur, dan ketika telur-telur sudah menetas dan memuat sarang tidak muat lagi maka Induk burung Enggang akan keluar untuk memperbaiki agar bisa muat untuk anak-anak mereka.Karena kesetian burung Enggang jantan dalam melayani burung ENggang mencarikan makan pada saat burung Enggang betina bertelur sampai membesarkan anak-anaknya ini maka burung ini banyak di jadikan lambang untuk lambang kesetian.

Burung Enggang Dalam Mitos

      Di dalam mitosanya di Kalimantan burung ini disebut dengan burung "Alam Atas" dari mitosnya burung ini adalah burung jelmaan Panglima Perang dan akan muncull pada saat ada peperangan saja, oleh masyarakat kalimantan burung ini di skralkan tidak boleh di buru dan kalaupun ada burung
Enggang yang mati maka burung ini tidak di buang begitu saja melainkan kepala dan ranggaka burung akan di smpan dan kepalnya akan di jadikan hiasan kepala pada dan akan di gunakan oleh orang-orang tertentu saja.


Selasa, 24 Mei 2016

Pukung himba
Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat”. Foto oleh Tom
Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat”. Foto oleh Tom
                 Pukung himba adalah kawasan hutan rimba yang tujukan sebagai wilayah cadangan dan tidak boleh ditebang atau dieksploitasi. Ciri-ciri wilayah yang telah dijadikan pukung himba biasanya adalah daerah hutan lebat dengan pohon-pohon yang berumur sangat tua dan besar. Wilayah ini umunya masih dihuni oleh satwa liar dan belum banyak terjamah kegiatan manusia.
 Hutan lebat dengan pohon-pohon yang berumur tua dan besar itu tdipercaya merupakan        wilayah yang angker dan dianggap sebagai tempat yang disenangi para Gana (roh-roh).   Penetapan wilayah  pukun rimba disadari sangat penting oleh masyarakat   Dayak terutama ketika mereka akan membuka ladang atau garapan baru , roh-roh penunggu yang ada di lokasi tersebut terlebih dahulu harus “dipindahkan” ke lokasi yang baru.Keberadaan pukung himba jika dilihat dari perspektif konservasi hutan merupakan bentuk usaha pelestarian kawasan-kawasan hutan yang berfungsi sebagai wilayah habitat keanekaragaman sumberdaya alam baik flora dan fauna yang ada di dalamnya.
Hutan, Ladang dan Kehidupan
       Kegiatan berladang sebagai bagian dari upaya untuk menyediakan dan memenuhi kebutuhan hidup telah dilakukan masyarakat Dayak kurang lebih 6.000 Sebelum Masehi disamping kegiatan lainnya seperti mengumpulkan hasil hutan dan usah-usaha perburuan hewan yang telah berlangsung lebih tua lagi.Kehidupannya masyarakat Dayak sepertinya memang tidak bisa dipisahkan dari hutan, hutan yang berada di sekeiling mereka telah dianggap menjadi bagian dari ekosistem kehidupan mereka. Hutan telah menjadi bagian dari hidup masyarakat Dayak secara menyeluruh dan juga telah menjadi bagian dari tradisi. Mungkin kita menganggap bahwa orang Dayak telah menjadi “penguasa” hutan.    
      tapi jika ditelaah lebih lanjut justru yang terjadi adalah hubungan timbal balik yang saling menguntukan.Hubungan antara masyarakat Dayak dengan hutan adalah hubungan timbal balik. Hutan telah memberikan anugerah bagi kehidupan, di sisi lain, orang dayak senantiasa “menjaga” wilayah hutan sesuai dengan tradisi dan pola budaya yang telah mereka sepakati. Pada gilirannya, hubungan antara hutan dan orang dayak telah melahirkan sistem perladangan hutan. Tradisi berladang ini pada perkembangannya sering di “kambing hitamkan” karena dianggap merusak wilayah konservasi hutan masyarakat Dayak ketika melakukan usaha perladangan atau membuka kawasan baru sebelum mereka pergi ke hutan dan menebang pohon-pohon itu tidaklah sembarangan. 
       Mereka terlebih dahulu akan melakukan serangkaian prosesi yang merupakan bagian dari tradisinya.Sebelum mengambil atau memanfaatkan sesuatu dari alam, terutama jika ingin menggarap atau membuka lahan baru di hutan, mereka harus terlebih dahulu memberitahukan maskudnya itu kepada kepala suku atau ketua adat. Setelah maksud sisampaikan dan disetujui, biasanya beberapa orang akan mencari tempat yang “cocok”. Tentu saja kriteria cocok ini banyak pertimbangannya terutama hal-hal yang menyangkut dengan aturan dan nilai yang telah mereka sepakati. Apabila sudah dipastikan wilayah hutan mana yang sesuai, maka selanjutnya dilakukan upacara pembukaan hutan sebagai harapan agar hutan yang dibuka itu berkenan memberkati mereka.
     Kriteria yang biasanya digunakan ketua adat atau ketua suku dalam memberi izin mengolah lahan dilihat dari adanya kepastian hubungan anggota persekututan dengan wilayah dan juga telah bersedia tunduk pada ketentuan dan atau hukum adat. Kecenderungan ini bukan lah suatu aturan yang dibuat dalam waktu sebentar tetapi merupakan bagian dari refleksi hubungan yang telah berlangsung berabad-abad dengan hutan beserta segala isinya. mungkin apa yang dilakukan ini, dalam kaitannya memberi izin mengelola hutan, seharusnya juga dapat diterapkan kepada pihak-pihak swasta yang tidak hanya mendapat izin dari pemerintah yang ada tentunya tapi juga mendapat izin dari wilayah adat.
     Dalam kontek pengelolaan sumber daya hutan berwawasan tradisional, pada dasarnya dikalangan orang dayak memiliki cara-cara tertentu dalam mempelakukan kawasan hutan. Orang dayak memancang alam tidak sebagai asset atau kekayaan melainkan sebagai rumah bersama. konsep tumah bersama ini terlihat dalam setiap upacara yang mendahului kegiatan tertentu yang berkaitan dengan memanfaatkan hutan, dimana selalu terdapat unsur permisi atau meminta izin baik kepada anggota masyarakat lainnya atau kepada penghuni alam yang diyakini telah lebih dulu hadir di tempat tersebut dan mungkin tempat tersebut mempunyai niali historis. Meskipun sangat kental dengan mitos, namun apa yang dilakukan dan diyakini orang dayak merupakan kontrol dan fungsi normal kehidupan agar tetap terjadi keseimbangan. Pemikiran seperti itu melahirkan suatu persepsi mereka tentang pengelolaan sumber daya hutan yang tidak membabi buta.
    Secara sekilas terminologi dan usaha-usaha perladangan yang digunakan masyarakat Dayak erat dengan dunia sufranatural dan mistis atau terkesan tidak rasional. Akan tetapi jika kita telaah lebih mendalam, betapa Suku Dayak pada masa lalu telah memberikan kita pelajaran pentingnya menjaga dan melindungi alam beserta kekayaan sumberdaya yang ada di dalamnya demi menjaga keseimbangan dan upaya-upaya  pelestarian yang dilakukan guna kelangsungan dapat terus bisa dinikmati kelak oleh anak-cucu kita.
     Kesalah pahaman mungkin terjadi ketika pemerintah yang diserahi mandat unutk mengelola sumberdaya alam telah menentukan wilayah dengan pembagian yang berbeda dari apa yang telah ditentukan dalam cakupan wilayah adat. Atau mungkin, jangan-jangan telah terjadi pengrusakan yang disebabkan oleh mereka yang bukan berasal dari anggota kelompok adat yang telah diberi izin oleh pemerintah? Duduk bersama dan memperbaiki sistem tata kelola hutan ini mungkin dapat menjadi jalan tengahnya.

Minggu, 22 Mei 2016

Minggu 22 mei 2016



    Suku Dayak adalah suku asli dari kalimantan yang hidup berkelompok dan tinggal dipedalaman, digunung, dan sebagainya.Suku Dayak terbagi menjadi beberapa Suku salah satunya SUKU DAYAK LUNDAYEH. disini saya akan membahas tentang kehidupan Suku Dayak Lundayeh pada zaman dahulu. Suku Dayak Lundayeh dulu tidak belum percaya kepada Tuhan dan lebih percaya terhadap kekuatan Gaib, dan mungkin kita juga tahu tentang hal ini tapi pernakah kita bertanya mengapa? sebab dulu orang-orang suku dayak lundayeh lebih percaya kekuatan gaib "MEKINAM" sehingga muncul peristiwa tentang adanya kepercayaan terhadap nasib yang akan dialami hari itu. salah satu jenis hewan yang menjadi kepercayaan suku dayak lundayeh pada zaman dahulu adalah burung.

    Burung itu biasa disebut dengan istilah Lundayeh yaitu "Burung MENGEI",

                                                   sumber: HasriAbdillah


  orang-orang suku dayak lundayeh berkata bahwa burung itu bisa memberi tahu tentang nasip yang akan mereka alami, jika burung itu melewati mereka maka mereka akan mendapatkan musibah diperjalanan, akan tetapi Suku Dayak Lundayeh juga percaya terhadap Buaya. 


                                                           sumber:www.apakabardunia.com

sebagai masyarakat suku dayak dalam mempercayai buaya tersebut sebelumnya mereka terlebih dahulu melakukan pemujaan dengan memotong  jenis kurban lainnya sebagai makanan pemujaan,kurban yang biasa digunakan dalam pemujaan salah satunya yaitu Ayam. Ayam sering kali digunakan saat melakukan pemujaan terhadap buaya.
      pemujaan yang dilakukan terhadap buaya untuk meminta agar dilindungi dari kekuatan jahat yang disengaja untuk mencelakai mereka sehingga mereka menyebut buaya itu sebagai pelindung dari marabahaya. Itulah yang menjadi bagian hidup nenek moyang zaman dahulu dengan mempercayai tradisi kehidupan yang sekarang kebanyakkan suku dayak lundayeh tidak mengikuti lagi tradisi itu. Zaman semakin maju sehingga tradisi itu semakin tidak terlihat lagi didunia dayak lundayeh dan banyak pula yang sudah percaya kepada Tuhan. Demikianlah pembahasan tentang kehidupan  suku dayak lundayeh.
  Tidak semua masyarakat meninggalkan kepercayaan terhadap kekuatan gaib ada pula sebagian masyarakat suku dayak lundayeh sampai saat ini percaya terhadap kekuatan gaib tersebut. Tapi sebenarnya kekuatan gaib  tidaklah pernah ada , kecuali kita sajalah yang  menggangap itu ada dan membuat binatang-binatang itu sebagai pedoman kehidupan mereka pada zaman dahulu.Jika ada  kata-kata atau pembahasan saya yang kurang  jelas saya mohon maaf dan jika ada saran atau kritikkan  mengenai artikel saya silahkan,dan jangan lupa kunjungi terus website dari saya. Saya akan terus memberikan informasi selanjutnya tentang suku dayak Lundayeh .sekian dari saya terima kasih.